Bukti Ilmiah yang Mengejutkan Tentang Daging Babi

Terakhir diperbarui pada

Kamu suka memakan olahan daging babi, seperti bacon, ham, pepperoni, atau sejenisnya? Daging ini yang “katanya” lebih enak daripada daging ayam atau bebek, atau bahkan sapi.

Tapi, dilain sisi, sudah banyak orang yang mencoba menelitinya, dan mendapatkan beberapa bukti-bukti nyata. Jika kamu suka memakannya, mungkin ada beberapa hal yang bertentangan dengan yang kamu percayai sekarang.

1. Sudut pandang agama tentang daging babi

Banyak agama besar di dunia telah melarang konsumsi babi dan olahannya. Yang paling umum diketahui yaitu agama Islam, yang melarangnya berdasar Al Qur’an Surat Al-Baqarah 173. Selain itu, denominasi agama Kristen seperti Ortodoks Ethiopia, Akar Ibrani, Yahudi Mesianik, Rastafarian, Advent Hari Ketujuh, dan United Church of God, juga melarang konsumsi daging babi didasarkan pada Imamat 11, Ulangan 14, Yesaya 65 dan Yesaya 66.​[1]​ Bahkan, umat Hindu pun dilarang mengkonsumsinya berdasar pada Manusmerti 5:19.​[2]​

Sekarang coba pikir, tidak hanya satu atau dua agama besar, tapi sudah banyak agama yang mengharamkan konsumsi babi. Logiskah jika semua agama itu salah, dan justru pemakan daging babi yang benar? Berbeda cerita jika suatu makanan hanya diharamkan oleh satu agama tertentu saja. Maka itu hanya menjadi internal penganut agama tersebut.

Di lain sisi, mungkin banyak orang Kristen yang mengkonsumsi olahan daging babi. Padahal jelas tertulis larangan di kitab sucinya. Tapi beberapa dari mereka menyangkalnya. Mereka percaya dahulu orang kristen memang tidak mengkonsumsi babi, tapi tren ini mulai muncul di masa-masa adanya perjanjian baru.

Kalau kamu adalah orang yang sangat taat beragama, coba cek kitab sucimu. Adakah larangan mengkonsumsi daging babi? meski satu ayat atau satu kalimat saja. Yang saya tau, larangan mengkonsumsi babi sudah ada sejak lama, dan tertulis jelas di beberapa kitab suci.

Al-Qur’an, kitab suci umat Islam dengan jelas menyebutkan:

Al Qur'an Surat Al-Baqarah [2:173]

Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Al Qur’an Surat Al-Baqarah [2:173]

Alkitab juga dengan jelas menyebutkannya:

Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.

Imamat 11:7-8

kitab undang-undang agama Hindu dan masyarakat di India kuno juga dengan jelas menyebutkannya:

छत्राकं विड्वराहं च लशुनं ग्रामकुक्कुटम् ।
पलाण्डुं गृञ्जनं चैव मत्या जग्ध्वा पतेद् द्विजः ॥ १९ ॥

chatrākaṃ viḍvarāhaṃ ca laśunaṃ grāmakukkuṭam |
palāṇḍuṃ gṛñjanaṃ caiva matyā jagdhvā pated dvijaḥ || 19 ||

Jamur, babi kampung, bawang putih, ayam kampung, bawang merah dan daun bawang, – orang yang dua kali memakannya dengan sengaja akan menjadi orang buangan (19)

Manusmerti 5:19

Jadi mengapa babi haram untuk dikonsumsi? Dilihat dari kepercayaan, karena sudah tertulis di beberapa kitab suci dan kita (penganut salah satu agama tersebut) harus meyakininya. Bahkan, khusus agama Islam, manusia ditantang untuk membuktikan ayat tersebut.

2. Statistik konsumsi daging di dunia

Namun ternyata, daging babi merupakan daging yang paling banyak dikonsumsi di dunia. Sekarang, coba lihat dulu Gambar 1 di bawah. Dari total konsumsi daging di seluruh dunia tahun 2017 saja, konsumsi daging babi mencapai 40 persen. Bahkan daging ayam yang mungkin lebih sering kita makan, menduduki peringkat kedua, di kisaran 32 persen.​[3]​

Padahal kita tau banyak resto cepat saji yang menyajikan menu ayam krispi, ayam goreng, dll. Beda lagi kalau daging sapi yang memang lebih jarang yang mengkonsumsinya. Alasannya mungkin karena harga daging sapi terkenal lebih mahal.

Rasio Konsumsi Daging Dunia Tahun 2017
Gambar 1. Rasio Konsumsi Daging Dunia Tahun 2017

Kalau kita berbicara data seluruh dunia, setiap tahun konsumsi daging babi ini terus meningkat. Bahkan, selalu menjadi daging yang paling banyak dikonsumsi tiap tahunnya. Alhasil, daging babi selalu menjadi daging yang paling banyak diproduksi oleh peternakan.

Daging lainnya seperti ayam, sapi, kambing, dll, memang juga meningkat setiap tahun. Tapi masih kalah dengan jumlah daging babi. Untuk detailnya, bisa dilihat di Gambar 2 di bawah ini.

Produksi daging di dunia menurut jenis hewan ternak
Gambar 2. Produksi daging di dunia menurut jenis hewan ternak

Yang kita tau, Indonesia kan mayoritas muslim, pastinya konsumsi daging babi jauh lebih sedikit. Ya, itu benar jika dibanding kan Cina atau Amerika. Tapi di Indonesia pun, beberapa provinsi memproduksi banyak daging babi. Sebut saja Bali, Sumatra Utara, NTT, Sulawesi Utara, dll. Alasannya memang beberapa provinsi tersebut memiliki jumlah penduduk non-muslim yang tidak sedikit, mungkin saja mayoritas. Jadi, bahkan jika ditotal keseluruhan Indonesia, di tahun 2018 saja, produksi daging babi malah lebih dari 300 ribu ton.​[4]​

Tapi setiap negara memiliki tren konsumsi yang berbeda-beda. Dalam komposisi dunia, negara Cina lah penyumbang terbanyak. Tak tanggung-tanggung, sekitar 60% dari total produksi daging babi di dunia itu dari Cina. Selain Cina, produsen terbesar daging babi itu ada Rusia, Eropa dan Amerika. Silahkan cek Gambar 3 untuk melihat detail di setiap negara.

Volume produksi daging babi di seluruh dunia (dalam Ton)
Gambar 3. Volume produksi daging babi di seluruh dunia (dalam Ton)

Tapi dibalik itu semua, hampir semua dokter hebat akan menyarankanmu untuk tidak memakan daging babi. Bahkan beberapa dari para dokter itu, menyempatkan waktunya untuk menulis di blog / situs mereka. Jika kamu masih sering memakan daging babi, mungkin hal itu dapat membuatmu berpikir dua kali.

Selanjutnya, jika kamu masih mau membaca sampai akhir, akan saya berikan fakta-fakta tentang daging babi, ini termasuk hasil olahannya. Tenang saja, setiap fakta akan disertai bukti empiris. Kalau ada, saya juga berikan dari hasil penelitian yang terbaru.

3. 98% DNA babi mirip manusia

Ok, mungkin saya rubah sedikit menjadi 98% gen babi mirip dengan gen manusia. Agar yang tau biologi tidak protes. Karena kromosom berisi gen, dan gen terdiri dari DNA.​[5]​ Hal ini menjadikan babi sangat mirip dengan manusia dalam hal sistem peredaran darah (kardiovaskular), sistem pencernaan, hati, pankreas, ginjal, kulit, dan lain-lain.​[6]​

Lalu apa masalahnya dengan memakan daging babi?

Itu dia, justru banyak menyangkut kesehatan. Karena gen babi mirip dengan manusia, maka virus atau penyakit yang dapat menjangkiti babi, kemungkinan besar bisa menjangkiti orang yang memakannya.

Bahkan sekarang para ilmuwan mengganti tikus dengan babi dalam penelitian mereka tentang penyakit manusia. Babi sangat cocok untuk penelitian biomedis, karena memiliki banyak kesamaan dengan manusia. Selain dari yang disebutkan diatas, secara garis besar, kesamaannya mulai dari ukuran tubuh, fitur anatomi, fisiologi dan patofisiologi.​[7]​

4. Kebiasaan babi

Mungkin, dari semua literatur yang ada, kebanyakan beralasan karena kebiasaan babi yang sangat berbeda daripada hewan berkaki empat lainnya. Mereka adalah hewan yang agak kotor, yang dianggap sebagai “tempat sampah hidup”. Hal ini dikarenakan babi dapat memakan semua “sampah” organik di peternakan manapun. Babi dapat memakan apa saja yang mereka temukan, termasuk air seni dan kotoran mereka sendiri, serta mayat babi atau hewan lain, bahkan tanah.​[1], [8]​

Selain itu, babi sangat malas dan tidak gesit. Jika berada di luar ruangan, babi tidak tahan terhadap sinar matahari. Mereka akan selalu mencari tempat teduh atau lumpur. Tapi, lumpur akan menjadi pilihan pertamanya untuk mendinginkan tubuhnya.

Tapi, hal ini sangat berbanding terbalik dengan kebiasaan makannya. Meskipun babi tidak terlalu aktif, tapi nafsu makannya paling rakus dibandingkan dengan hewan ternak lainnya.

5. Permasalahan sistem tubuh babi dan racunnya

Pencernaan

Secara umum, tubuh hewan dan manusia memisahkan racun dan komponen berbahaya dalam makanan, lalu membuangnya melalui urin dan sistem ekskresi. Proses ini dapat memakan waktu yang relatif lama, tergantung pada sistem pencernaan dan makanan yang dimakan. Mudahnya, semakin lama proses pencernaan, semakin bagus.

Seekor sapi umumnya membutuhkan waktu sekitar satu hari untuk mencerna makanannya agar bersih dari racun. Tapi, seekor babi mencerna semua makanan mereka hanya dalam waktu sekitar empat jam (6 kali lebih cepat dari sapi).

Nah, tidak ada yang menjamin jika dalam waktu 4 jam semua racun dapat dipisahkan, itupun mungkin sebagian kecil racun saja. Hasilnya, makanan yang diserap oleh tubuh babi masih mengandung banyak racun.​[1]​

Racun dalam tubuh

Nah, dari makanan-makanan yang diserap babi, racunnya semakin banyak mengendap di tubuh babi. Hal ini diperparah dengan sedikitnya akses racun untuk keluar dari tubuh babi. Di point sebelumnya, tertulis babi tidak tahan terhadap sinar matahari, dengan kata lain, babi tidak menyukai iklim panas. Ini karena kurangnya sistem kelenjar keringat di tubuh babi, dan inilah alasan kenapa babi sulit untuk berkeringat.​[9]​ Hasilnya, banyak endapan racun yang masih tersisa di dalam tubuh babi.

Pastinya orang akan memakan daging babi yang telah dimasak. Tapi racun-racun ini tidak bisa dihilangkan hanya dengan memasak.​[10]​ Jadi, ketika ada orang mengkonsumsinya, semua racun ini berpindah ke orang tersebut.

Yang lebih mengkhawatirkan lagi, daging babi memiliki konsentrasi logam berat seperti As, Cd, Hg. Okelah jika kita pernah “tidak sengaja” memakan daging babi. Tapi jika dilakukan terus-menerus, efek jangka panjang terhadap keracunan logam ini dapat menyebabkan kerusakan ginjal. Bahkan meski dalam tingkat yang rendah.​[11]​

Selain itu, racun lainnya berasal dari sisa-sisa dioksin, aditif, dan obat-obatan hewan ternak lainnya. Malahan, pemrosesan daging juga bisa menambahkan lebih banyak zat beracun.​[12]​

6. Pembawa parasit

Salah satu alasan paling penting menjauhi daging babi yaitu karena banyaknya parasit pada babi. Berapapun usia babi, banyak jumlah dan jenis parasit yang hidup di dalamnya. Bahkan apapun jenis parasitnya, sebagian besar mudah menular ke manusia. Efeknya mulai dari penyakit klinis hingga mungkin kematian.​[13]​

Dari sekian banyak jenis parasit itu, parasit utamanya yaitu cacing otot (Trichinella spp.), cacing pita (Taenia spp.), protozoa Toxoplasma gondii dan protozoa Sarcocystis spp. Parasit-parasit itulah asal muasal sebagian besar penyakit pada manusia karena memakan daging babi.​[14]​

Alasan kontra

Sekarang kita hidup di jaman modern, ada microwave, oven, dan sebagainya untuk memasak pada suhu tinggi. Banyak orang bilang, hampir semua parasit ini dapat dibunuh dengan cara memasak daging babi di suhu diatas 75°C selama 15-30 menit. Atau, membekukan daging pada suhu -21°C selama 1-7 hari umumnya menonaktifkan kebanyakan parasit.​[15]​ Tapi mereka lupa, bahwa informasi ini hasil penelitian di laboratorium. Itupun membunuh atau menonaktifkan “kebanyakan” parasit, jadi tidak semua. Dan juga hal ini tidak dapat dipastikan dalam situasi rumahan. Padahal orang kalau memasak ya di dapur, tanpa sterilisasi seperti di laboratorium. Jadi, alasannya untuk menghilangkan keseluruhan kontaminasi juga tidak terjamin.​[10]​

Memang benar resiko orang yang terinfeksi parasit dari daging babi “relatif” rendah. Tapi meski rendah, efeknya tetap sangat berbahaya bagi tubuh manusia. Banyak peneliti yang berusaha menghilangkan cacing otot dan cacing pita dari tubuh babi. Namun jangan berharap banyak, karena praktik-praktik tersebut malah menyebabkan infeksi pada babi itu sendiri. Bahkan mungkin bisa sampai mencederainya.​[16]​

7. Lemak pada daging babi

Daging babi adalah salah satu makanan dengan lemak jenuh tinggi. Lemak ini berkisar antara 9-35gram lemak per 85gram daging babi. Itupun tergantung resep, cara memasak, dan cara penyajian.​[17]​

8. Wabah Penyakit

Mengkonsumsi daging babi dapat menimbulkan banyak risiko penyakit. Apalagi jika memasaknya kurang matang. Sebagian besar resikonya disebabkan oleh infeksi parasit dan/atau racun yang terkandung di dalam dagingnya.

Potensi bahaya virus baru

Di tahun 2012, para peneliti menemukan virus baru di dalam daging babi. Mereka mulai khawatir karena potensinya mengancam hewan lain dan manusia. Virus ini bernama Porcine deltacoronavirus, dan pertama kali ditemukan di sebuah peternakan di Cina.

Di tahun 2014, virus ini terdeteksi di AS saat ada wabah diare di peternakan babi di Ohio. Selanjutnya, di tahun 2018 mulai terdeteksi di negara lain juga.

Virus baru ini berpotensi menginfeksi berbagai spesies, termasuk manusia. Bahkan, bisa menyebabkan diare akut, muntah, dan bisa berakibat fatal. Tapi, sekarang masih belum ada laporan kasus pada manusia. Namun masih diselidiki dalam beberapa penelitian.​[18]​

Infeksi Trichinella

Cacing otot (Trichinella) adalah salah satu spesies yang paling kuat. Ia dapat beradaptasi dengan babi domestik maupun babi liar. Peta pada Gambar 4 di bawah ini menunjukkan daerah distribusi Trichinella.

Keterangan:
Trichinella papuae (Tpa), T. pseudospiralis dari Amerika utara (TpsN), T. pseudospiralis dari Eropa dan Asia (TpsP), T. pseudospiralis dari Tasmania (TpsA), Trichinella spiralis (Tsp), dan T. zimbabwensis (Tzi) (Gottstein, Pozio, dan Nöckler, 2009).

Peta wilayah distribusi Trichinella
Gambar 4. Peta wilayah distribusi Trichinella

Penyebab utama infeksi cacing otot adalah mengonsumsi daging babi mentah atau kurang matang.​[19]​ Kamu dapat melihat kemiripan antara Gambar 3 dan 4 diatas. Jadi kesimpulannya, semakin tinggi konsumsi daging babi, semakin tinggi juga resiko terinfeksi Trichinella.

Tapi dilain sisi, pernah juga terjadi infeksi cacing otot di negara muslim, Turki tahun 2004. Ini mengakibatkan terjadinya wabah besar trichinellosis. Padahal kita tau bahwa muslim haram memakan babi.

Usut punya usut, ini ternyata ulah oknum tidak bertanggungjawab. Oknum ini mencampur daging sapi dengan babi secara ilegal dan tidak diketahui asalnya. Oknum ini adalah seorang penjual daging, yang menjualnya ke restoran dan pedagang kecil lainnya dengan harga yang sangat murah. Jauh lebih murah dari harga daging sapi normal.​[20]​

Risiko sistiserkosis

Sudah disebutkan diatas, bahwa orang yang memakan daging babi juga beresiko terinfeksi cacing pita (Taenia). Parasit ini dapat menyebabkan sistiserkosis (cysticercosis). Celakanya, parasit ini sanyat banyak ditemukan di Asia (terutama Cina), Amerika Latin, dan Afrika sub-Sahara.

Apa sih Sistiserkosis itu? Sistiserkosis adalah infeksi jaringan otot atau bahkan jaringan otak karena larva cacing pita. Gejala paling parahnya adalah neurosistiserkosis. Yaitu terbentuknya kista di otak dan sumsum tulang belakang. Hal ini dapat menyebabkan epilepsi atau aktivitas otak yang tidak normal. Gejala epilepsi dapat menyebabkan sensasi yang tidak biasa, perilaku yang tidak biasa (kejang), atau bahkan bisa membuat kehilangan kesadaran.​[21]​

Risiko sistiserkosis di seluruh dunia
Gambar 5. Risiko sistiserkosis di seluruh dunia

Coba juga bandingkan antara Gambar 3 dan Gambar 5. Jelas sekali adanya hubungan antara konsumsi daging babi dengan resiko sistiserkosis. Hal yang paling jelas yaitu di Cina dan Amerika. Tapi di Afrika agak berbeda, selain konsumsi daging babi, juga disebabkan karena lingkungan yang sangat kotor.

Efek kecil lainnya

Bahkan ada juga efek kecil yang muncul setelah mengkonsumsi daging babi dalam jangka waktu yang lama. Salah satu efeknya yaitu sangat mempengaruhi bau badan.​[22]​ Efek lainnya, kalau sering mengonsumsi bacon, juga berisiko terkena kanker kandung kemih.​[23]​

9. Dilema daging babi

Jaman modern sekarang ini, banyak orang yang mengklaim produk olahan daging babi mereka berkualitas tinggi. Tapi pastinya banyak dari kita tidak tahu proses mereka mengolahnya. Jika pengolahannya kurang matang, resiko terinfeksi parasit, seperti cacing otot atau cacing pita.

Jika diolah hingga sangat matang, kebanyakan parasit mungkin mati. Tapi resiko racunnya tidak berubah, khususnya kontaminasi hormon dan pestisida. Parahnya, jika dimasak dalam suhu tinggi, atau terlalu matang, juga beresiko meningkatkan zat karsinogenik. Zat-zat inilah penyebab resiko beberapa jenis kanker.​[24]​

Di beberapa tempat mungkin kamu melihat klaim “Bebas Hormon” atau “Bebas Antibiotik” dalam olahan daging babi. Bisa saja itu benar, karena hormon tambahan memang dilarang di beberapa negara. Tapi justru kondisi babi, peternakan, dan penggunaan obatlah yang menjadi masalah utama.​[1]​

Kesimpulan

Saya tau setiap orang punya pendapat dan informasi pendukung masing-masing. Jadi tidak perlu diperdebatkan secara intens siapa yang paling benar. Setiap orang yang tetap ingin mengkonsumsi babi atau tidak, itu pilihan setiap individu. Namun, tulisan ini hanya memberikan sedikit gambaran tentang resikonya.

Kita tahu apapun yang kita lakukan pasti ada resikonya. Bahkan kita minum air putih saja, ada resikonya. Coba cek di artikel tentang bahaya minum air berlebih. Namun, memakan daging babi memilik resiko yang jauh lebih besar yang menyangkut kesehatanmu dibandingkan manfaatnya.

Kitab suci agamamu (kalau punya) juga bisa menjadi bahan pertimbangan. Gambar-gambar diatas juga saya rasa sudah jelas menunjukkan resiko infeksi karena konsumsi daging babi. Bahkan tidak ada suhu yang sekiranya aman untuk memasak daging babi, yang menghilangkan semua parasit dan racunnya.

Yang namanya pendapat juga banyak. Jadi banyak juga situs atau jurnal yang menjelaskan manfaat makan daging babi. Tapi itu semua tidak sebanding dengan resikonya, yang jauh lebih banyak dan berbahaya. Alternatifnya, kita dapat mengkonsumsi makanan laut matang yang jauh lebih sehat, atau daging lain seperti ayam, atau sapi.

Referensi

  1. [1]
    J. Axe, “Why You Should Avoid Pork,” Dr. Axe, Oct. 31, 2016. https://draxe.com/nutrition/why-you-should-avoid-pork/ (accessed Mar. 20, 2019).
  2. [2]
    G. Jha, Manusmriti with the Commentary of Medhatithi. Delhi: Motilal Banarsidass, 1999.
  3. [3]
    National Pork Board, “Pork Quick Facts: World Per Capita Pork Consumption,” Pork Checkoff, 2018. https://www.pork.org/facts/stats/u-s-pork-exports/world-per-capita-pork-consumption/ (accessed Mar. 18, 2019).
  4. [4]
    BPS, “Produksi Daging Babi menurut Provinsi, 2009-2018,” Badan Pusat Statistik, 2018. https://www.bps.go.id/linkTableDinamis/view/id/1046 (accessed Jan. 18, 2020).
  5. [5]
    ABC, “Do pigs share 98 percent of human genes?,” ABC Science, May 03, 2010. https://www.abc.net.au/science/articles/2010/05/03/2887206.htm (accessed Jan. 18, 2020).
  6. [6]
    M. M. Swindle, A. Makin, A. J. Herron, F. J. Clubb Jr, and K. S. Frazier, “Swine as Models in Biomedical Research and Toxicology Testing,” Vet Pathol, pp. 344–356, Mar. 2011, doi: 10.1177/0300985811402846.
  7. [7]
    C. Perleberg, A. Kind, and A. Schnieke, “Genetically engineered pigs as models for human disease,” Dis. Model. Mech., p. dmm030783, Jan. 2018, doi: 10.1242/dmm.030783.
  8. [8]
    M. F. Qamar and I. Raza, “Scientific evidences that pig meat (pork) is prohibited for human health,” Scientific Papers. Series D. Animal Science, vol. 55, pp. 281–286, 2012, [Online]. Available: http://animalsciencejournal.usamv.ro/index.php/scientific-papers/131-a56.
  9. [9]
    K. Kruszelnicki, “Sweat like a pig?,” ABC Science: Great Moments In Science, Apr. 22, 2008. http://www.abc.net.au/science/articles/2008/04/22/2223974.htm (accessed Mar. 22, 2019).
  10. [10]
    D. M. Westphal, What Elite Athletes Eat: The Real Wellness, vol. 1. Park City, Utah: CeeJayEnterprizes, 2015.
  11. [11]
    D. Milićević, M. Jovanović, V. Jurić, Z. Petrović, and S. Stefanović, “Toxicological Assessment of Toxic Element Residues in Swine Kidney and Its Role in Public Health Risk Assessment,” IJERPH, pp. 3127–3142, Dec. 2009, doi: 10.3390/ijerph6123127.
  12. [12]
    T. T. T. Hanh, N. T. M. Duc, P. P. Duc, C. V. Tuat, and H. Nguyen-Viet, “Chemical hazards in pork and health risk: A review,” Vietnam Journal of Public Health, vol. 35, pp. 7–16, Mar. 2015, [Online]. Available: https://hdl.handle.net/10568/65157.
  13. [13]
    R. M. Corwin, “Diagnostic Notes: Pig parasite diagnosis,” Swine Health and Production, vol. 5, no. 2, pp. 67–70, Apr. 1997, [Online]. Available: https://www.aasv.org/shap/issues/v5n2/v5n2p67.pdf.
  14. [14]
    O. Djurković-Djaković, B. Bobić, A. Nikolić, I. Klun, and J. Dupouy-Camet, “Pork as a source of human parasitic infection,” Clinical Microbiology and Infection, pp. 586–594, Jul. 2013, doi: 10.1111/1469-0691.12162.
  15. [15]
    F. Franssen et al., “Inactivation of parasite transmission stages: Efficacy of treatments on food of animal origin,” Trends in Food Science & Technology, pp. 114–128, Jan. 2019, doi: 10.1016/j.tifs.2018.11.009.
  16. [16]
    K. Kniel, “Progress in intervention programs to eradicate foodborne helminth infections,” in Advances in Microbial Food Safety, Elsevier, 2013, pp. 385–397.
  17. [17]
    USDA, “FoodData Central,” U.S. Department of Agriculture: Agricultural Research Service, 2018. https://fdc.nal.usda.gov/fdc-app.html#/?query=pork%20fat (accessed Mar. 22, 2019).
  18. [18]
    M. Crane, “New pig virus found to be a potential threat to humans,” Medical Xpress: Diseases, Conditions, Syndromes, May 14, 2018. https://medicalxpress.com/news/2018-05-pig-virus-potential-threat-humans.html (accessed Mar. 22, 2019).
  19. [19]
    B. Gottstein, E. Pozio, and K. Nockler, “Epidemiology, Diagnosis, Treatment, and Control of Trichinellosis,” Clinical Microbiology Reviews, pp. 127–145, Jan. 2009, doi: 10.1128/cmr.00026-08.
  20. [20]
    N. Akkoc et al., “A Large-Scale Outbreak of Trichinellosis Caused byTrichinella britoviin Turkey,” Zoonoses and Public Health, pp. 65–70, Mar. 2009, doi: 10.1111/j.1863-2378.2008.01158.x.
  21. [21]
    H. Onyett, “Cysticercosis and Taeniasis,” Canadian Paediatric Society, Jul. 2019. https://www.kidsnewtocanada.ca/conditions/cysticercosis (accessed Feb. 04, 2020).
  22. [22]
    J. Havlicek and P. Lenochova, “The Effect of Meat Consumption on Body Odor Attractiveness,” Chemical Senses, pp. 747–752, Aug. 2006, doi: 10.1093/chemse/bjl017.
  23. [23]
    D. S. Michaud, C. N. Holick, E. Giovannucci, and M. J. Stampfer, “Meat intake and bladder cancer risk in 2 prospective cohort studies,” The American Journal of Clinical Nutrition, pp. 1177–1183, Nov. 2006, doi: 10.1093/ajcn/84.5.1177.
  24. [24]
    J. Mercola, “Are There Deadly Superbugs in Your Pork?,” Mercola: Take Control of Your Health, Jul. 12, 2008. https://articles.mercola.com/sites/articles/archive/2008/07/12/are-there-deadly-superbugs-in-your-pork.aspx (accessed Mar. 22, 2019).

Gambar sampul oleh Francis Claria di Pixabay

Written by Philip F. E. Adipraja

Philip saat ini sedang belajar mengatur proyek yang berkaitan dengan perangkat lunak. Mulai menulis untuk berbagi pengetahuan. Namun, sekaligus untuk belajar cara menulis suatu materi pembelajaran sesederhana mungkin.

This article has 2 comments

  1. gravatar
    Reza Andana Reply

    Mangkanya dalam Kitab Quran mengharamkan Babi, mudzarat nya lebih banyak mudzarat, ketimbang manfaat.

    • gravatar
      Philip F. E. Adipraja

      Memang betul, tapi di dalam kitab Al-Qur’an tidak menjelaskan detail alasan-alasannya. Makanya artikel ini membahas tentang alasan-alasan mengapa seperti itu.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.