{"id":567,"date":"2019-11-06T13:29:22","date_gmt":"2019-11-06T06:29:22","guid":{"rendered":"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/?p=567"},"modified":"2022-10-28T16:47:19","modified_gmt":"2022-10-28T09:47:19","slug":"penjelasan-ilmiah-mengenai-mitos-anjing-dan-kucing","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/id\/penjelasan-ilmiah-mengenai-mitos-anjing-dan-kucing\/","title":{"rendered":"Penjelasan Ilmiah Mengenai Mitos Anjing dan Kucing"},"content":{"rendered":"\n<p>Ada beberapa mitos tentang kucing dan anjing. Beberapa mitos mengatakan bahwa kucing atau anjing bisa sangat bersahabat tetapi juga bisa berbahaya. Selain itu, karena kepercayaan tertentu, orang mungkin memperlakukan kucing dan anjing secara berbeda. Oleh karena itu, artikel ini kita akan mendiskusikan informasi ilmiah terbaru tentang kucing dan anjing, untuk mengungkap mitos-mitos tersebut.<\/p>\n\n\n\n<!--more-->\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"0-anjing-dan-kucing\">Anjing dan kucing<\/h2>\n\n\n\n<p>Anjing dan kucing termasuk dalam hewan peliharaan paling populer. Karenanya, ada banyak orang yang berinteraksi dengannya setiap hari. Ada beberapa penelitian yang menemukan bahwa berinteraksi dengan hewan bisa berdampak positif bagi kesehatan dan kebahagiaan. Namun, peneliti lain juga menemukan bahwa tidak ada dampak apa pun. Dalam beberapa kasus bisa lebih buruk daripada orang yang tidak memiliki hewan peliharaan <span id=\"63d2dc44-ed52-4257-bbb7-38192658e99d\" data-items=\"[&quot;1568607974&quot;]\" class=\"abt-citation\" contenteditable=\"false\">\u200b[1]\u200b<\/span>.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"1-anjing\">1. Anjing<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/Two-Dogs.jpg\" alt=\"Dua anjing duduk di batu besar \"\/><figcaption> Dua anjing duduk di batu besar (kredit: <a href=\"https:\/\/pxhere.com\/en\/photo\/973183\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pxhere<\/a>)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"2-mitos\">Mitos 1: Air liur anjing sebagai antiseptik<\/h3>\n\n\n\n<p>Jika kamu memiliki anjing, mungkin ia akan sering menjilatimu saat ia merasa senang atau meminta perhatian. Pada saat itulah, kamu akan terkena air liur anjing. Sebuah penelitian telah menjelaskan bahwa air liur anjing dapat membantu mempertahankan diri dari infeksi pada luka anjing tertentu <span id=\"82f0c760-4ac4-4c2c-aa75-9d320c26b7b0\" data-items=\"[&quot;828516881&quot;]\" class=\"abt-citation\" contenteditable=\"false\">\u200b[2]\u200b<\/span>. Namun, tidak semua luka bisa sembuh jika terkena air liur anjing. Karena bakteri tertentu seperti C. canimorsus dalam air liur anjing juga bisa berbahaya jika terkena luka <span id=\"7b90152a-0f1e-457c-830b-82dca4dd71e1\" data-items=\"[&quot;4132214137&quot;,&quot;2494297419&quot;]\" class=\"abt-citation\" contenteditable=\"false\">\u200b[3], [4]\u200b<\/span>.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, jika kamu memiliki luka, segera beri pengobatan, dan sangat disarankan untuk menjauhkannya dari jilatan anjing. Sementara itu, jaga kesehatan anjingmu dengan cara menyikat gigi secara teratur dan melakukan perawatan gigi tahunan. Jika perlu, kunjungi dokter hewan secara rutin untuk memantau kondisi kesehatan anjingmu.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Mitos 2: Kotoran anjing menyuburkan tanah<\/h3>\n\n\n\n<p>Umumnya, anjing betina dan jantan secara naluri akan menandai &#8220;daerahnya&#8221; dengan urin dan\/atau kotorannya <span id=\"b73c3d3f-cdf1-48ad-b75e-c700317a6b55\" data-items=\"[&quot;328894915&quot;]\" class=\"abt-citation\" contenteditable=\"false\">\u200b[5]\u200b<\/span>. Kita mungkin pernah belajar bahwa kotoran hewan dapat digunakan sebagai pupuk. Namun, itu hanya dari hewan tertentu seperti kuda atau sapi. Di sisi lain, sebuah studi menunjukkan bahwa kotoran anjing malah akan mencemari tanah dan lingkungan <span id=\"37278071-538f-421a-94c5-28a19c3c16bb\" data-items=\"[&quot;3671849921&quot;]\" class=\"abt-citation\" contenteditable=\"false\">\u200b[6]\u200b<\/span>. Sejumlah besar kotoran anjing di jalanan perkotaan malah beresiko bagi kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan kotoran anjing mengandung banyak mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi manusia. Terlebih lagi, mikroorganisme patogen ini dapat bertahan dari beberapa kelas antibiotik. <\/p>\n\n\n\n<p>Inilah sebabnya mengapa pemilik anjing harus membersihkan kotoran anjing mereka dan memasukkannya ke kantong kotoran anjing.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"9-kucing\">2. Kucing<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/wp-content\/uploads\/2019\/03\/cat-sleeping.jpg\" alt=\"Kucing yang tertidur \"\/><figcaption>Kucing yang tertidur (kredit: <a href=\"https:\/\/pxhere.com\/en\/photo\/1204557\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">pxhere<\/a>)<\/figcaption><\/figure>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\" id=\"10-mitos\">Mitos 1: Kucing hanya mendengkur saat bahagia<\/h3>\n\n\n\n<p>Biasanya, kucing mendengkur saat kamu memperhatikannya, atau mereka sedang senang. Namun, mereka juga mendengkur ketika mereka takut atau merasa tidak enak badan. Sebuah studi menunjukkan adanya efek penyembuhan dari &#8220;dengkuran kucing&#8221; (<em><a aria-label=\"undefined (opens in a new tab)\" href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Purr\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">cat&#8217;s purr<\/a><\/em>), yang merupakan frekuensi fundamental, yang tepat berada di 25 Hz dan 50 Hz. Kedua frekuensi tersebut dapat membantu pertumbuhan tulang\/penyembuhan patah tulang <span id=\"b1daf32e-ded8-487b-a0f8-bd80c7dcd4c0\" data-items=\"[&quot;499430354&quot;]\" class=\"abt-citation\" contenteditable=\"false\">\u200b[7]\u200b<\/span>. Selain itu, kucing dapat memproduksi frekuensi harmonik sekitar 2 Hz sampai 100 Hz. Ini adalah frekuensi yang biasa digunakan sebagai terapi untuk nyeri, edema, luka, dan dispnea. Mekanisme penyembuhan internal tersebut memiliki banyak keuntungan, seperti: mempersingkat waktu pemulihan, dan menjaga kekuatan tulang dan otot saat tidak bergerak <span id=\"1ac7e487-9fc9-494c-afaa-bb3017d3b6d2\" data-items=\"[&quot;380252425&quot;]\" class=\"abt-citation\" contenteditable=\"false\">\u200b[8]\u200b<\/span>.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">Mitos 2: Kucing membersihkan diri dengan menjilati dirinya sendiri<\/h3>\n\n\n\n<p>Kucing menghabiskan sekitar 24% waktu mereka saat bangun untuk membersihkan tubuhnya. Selain untuk memelihara bulunya, hal ini juga untuk menghindari debu, kutu, dan panas berlebih. Mereka menggunakan lidah mereka, yang memiliki duri tajam, yang menghadap ke belakang, bernama <a aria-label=\"undefined (opens in a new tab)\" href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Lingual_papillae\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\"><em>papillae<\/em><\/a> <span id=\"f150e286-58f3-481f-b835-f0b789172c6f\" data-items=\"[&quot;3356501849&quot;]\" class=\"abt-citation\" contenteditable=\"false\">\u200b[9]\u200b<\/span>.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, hal ini tidak mencegah ketombe, bulu rontok, atau bau. Oleh karena itu, jika kamu memiliki kucing sebagai hewan peliharaan, mandikan kucing secara teratur. Lebih nyaman memiliki kucing yang bersih dan wangi berkeliaran.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Alergi anjing dan kucing<\/h2>\n\n\n\n<p>Terkadang, beberapa dari kita mungkin menderita alergi terhadap hewan peliharaan, seperti Bersin; Hidung meler atau pengap; Nyeri wajah (karena hidung tersumbat); Batuk, sesak dada, napas pendek dan mengi; Mata berair, merah, atau gatal; atau, kulit ruam atau gatal-gatal.<\/p>\n\n\n\n<p>Kamu mungkin alergi terhadap kucing, jika merasa memiliki gejala tersebut saat kucing berada di dekatmu, bahkan saat kucing itu pergi. Kucing dapat menghasilkan banyak &#8220;<a aria-label=\"undefined (opens in a new tab)\" href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Alergen\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">alergen<\/a>&#8221; atau protein yang dapat menyebabkan alergi pada manusia. Hal ini sering ditemukan pada bulu, kulit, dan air liur kucing.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, manu mungkin alergi terhadap anjing, jika merasa memiliki gejala tersebut saat anjing itu berada di dekatmu. Sama seperti kucing, anjing juga menghasilkan banyak alergen. Alergen ini sering ditemukan pada bulu anjing, rambut, air liur, dan bahkan air seni mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, ada kemungkinan bahwa bukan anjing atau kucing yang menjadi penyebab alergi. Debu dan serbuk sari yang menempel di tubuh kucing atau anjing juga dapat menyebabkan gejala alergi.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\" id=\"16-referensi\">Referensi<\/h2>\n\n\n\n<section aria-label=\"Bibliography\" class=\"wp-block-abt-bibliography abt-bibliography\" role=\"region\"><ol class=\"abt-bibliography__body\" data-maxoffset=\"3\" data-linespacing=\"1\" data-second-field-align=\"flush\"><li id=\"1568607974\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">[1]<\/div><div class=\"csl-right-inline\">H. Herzog, \u201cThe Impact of Pets on Human Health and Psychological Well-Being,\u201d <i>Curr Dir Psychol Sci<\/i>, pp. 236\u2013239, Aug. 2011, doi: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"https:\/\/doi.org\/10.1177\/0963721411415220\">10.1177\/0963721411415220<\/a>. [Online]. Available: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"http:\/\/dx.doi.org\/10.1177\/0963721411415220\">http:\/\/dx.doi.org\/10.1177\/0963721411415220<\/a><\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"828516881\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">[2]<\/div><div class=\"csl-right-inline\">S. Torres <i>et al.<\/i>, \u201cSalivary proteomics of healthy dogs: An in depth catalog.,\u201d <i>PLoS One<\/i>, vol. 13, no. 1, p. e0191307, Jan. 2018, doi: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"https:\/\/doi.org\/10.1371\/journal.pone.0191307\">10.1371\/journal.pone.0191307<\/a>. [Online]. Available: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pubmed\/29329347\">https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pubmed\/29329347<\/a><\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"4132214137\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">[3]<\/div><div class=\"csl-right-inline\">F. Renzi, M. Dol, A. Raymackers, P. Manfredi, and G. R. Cornelis, \u201cOnly a subset of C. canimorsus strains is dangerous for humans,\u201d <i>Emerging Microbes &amp; Infections<\/i>, pp. 1\u20139, Jan. 2015, doi: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"https:\/\/doi.org\/10.1038\/emi.2015.48\">10.1038\/emi.2015.48<\/a>. [Online]. Available: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"http:\/\/dx.doi.org\/10.1038\/emi.2015.48\">http:\/\/dx.doi.org\/10.1038\/emi.2015.48<\/a><\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"2494297419\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">[4]<\/div><div class=\"csl-right-inline\">J. Wilson, K. Kafetz, and D. Fink, \u201cLick of death: Capnocytophaga canimorsus is an important cause of sepsis in the elderly.,\u201d <i>BMJ Case Rep<\/i>, vol. 2016, Jun. 2016, doi: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"https:\/\/doi.org\/10.1136\/bcr-2016-215450\">10.1136\/bcr-2016-215450<\/a>. [Online]. Available: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pubmed\/27364692\">https:\/\/www.ncbi.nlm.nih.gov\/pubmed\/27364692<\/a><\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"328894915\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">[5]<\/div><div class=\"csl-right-inline\">D. N. Baxter, \u201cThe deleterious effects of dogs on human health: 3. Miscellaneous problems and a control programme,\u201d <i>Journal of Public Health<\/i>, pp. 198\u2013203, Aug. 1984, doi: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"https:\/\/doi.org\/10.1093\/oxfordjournals.pubmed.a043712\">10.1093\/oxfordjournals.pubmed.a043712<\/a>. [Online]. Available: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"http:\/\/dx.doi.org\/10.1093\/oxfordjournals.pubmed.a043712\">http:\/\/dx.doi.org\/10.1093\/oxfordjournals.pubmed.a043712<\/a><\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"3671849921\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">[6]<\/div><div class=\"csl-right-inline\">V. Cinquepalmi <i>et al.<\/i>, \u201cEnvironmental Contamination by Dog\u2019s Faeces: A Public Health Problem?,\u201d <i>IJERPH<\/i>, pp. 72\u201384, Dec. 2012, doi: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"https:\/\/doi.org\/10.3390\/ijerph10010072\">10.3390\/ijerph10010072<\/a>. [Online]. Available: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"http:\/\/dx.doi.org\/10.3390\/ijerph10010072\">http:\/\/dx.doi.org\/10.3390\/ijerph10010072<\/a><\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"499430354\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">[7]<\/div><div class=\"csl-right-inline\">S. Heather, \u201c What is Sound Healing?,\u201d <i>IJHC<\/i>, vol. 7, no. 1, Sep. 2007 [Online]. Available: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"https:\/\/citeseerx.ist.psu.edu\/viewdoc\/summary?doi=10.1.1.608.3691\">https:\/\/citeseerx.ist.psu.edu\/viewdoc\/summary?doi=10.1.1.608.3691<\/a><\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"380252425\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">[8]<\/div><div class=\"csl-right-inline\">E. von Muggenthaler, \u201cThe felid purr: A healing mechanism?,\u201d <i>The Journal of the Acoustical Society of America<\/i>, pp. 2666\u20132666, Nov. 2001, doi: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"https:\/\/doi.org\/10.1121\/1.4777098\">10.1121\/1.4777098<\/a>. [Online]. Available: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"http:\/\/dx.doi.org\/10.1121\/1.4777098\">http:\/\/dx.doi.org\/10.1121\/1.4777098<\/a><\/div>\n  <\/div>\n<\/li><li id=\"3356501849\">  <div class=\"csl-entry\">\n    <div class=\"csl-left-margin\">[9]<\/div><div class=\"csl-right-inline\">A. C. Noel and D. L. Hu, \u201cCats use hollow papillae to wick saliva into fur,\u201d <i>Proc Natl Acad Sci USA<\/i>, pp. 12377\u201312382, Nov. 2018, doi: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"https:\/\/doi.org\/10.1073\/pnas.1809544115\">10.1073\/pnas.1809544115<\/a>. [Online]. Available: <a rel=\"noreferrer noopener\" target=\"_blank\" href=\"http:\/\/dx.doi.org\/10.1073\/pnas.1809544115\">http:\/\/dx.doi.org\/10.1073\/pnas.1809544115<\/a><\/div>\n  <\/div>\n<\/li><\/ol><\/section>\n\n\n\n<p>Gambar sampul oleh Snapwire di <a href=\"https:\/\/www.pexels.com\/photo\/orange-tabby-cat-beside-fawn-short-coated-puppy-46024\/\" target=\"_blank\" rel=\"noreferrer noopener\">Pexels<\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada beberapa mitos tentang kucing dan anjing. Beberapa mitos mengatakan bahwa kucing atau anjing bisa sangat bersahabat tetapi juga bisa berbahaya. Selain itu, karena kepercayaan tertentu, orang mungkin memperlakukan kucing dan anjing secara berbeda. Oleh karena itu, artikel ini kita akan mendiskusikan informasi ilmiah terbaru tentang kucing dan anjing, untuk mengungkap mitos-mitos tersebut.<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":6668,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[41],"tags":[255,257,259,261,263,265],"class_list":["post-567","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kesehatan-id","tag-anjing-id","tag-gonggongan-anjing-id","tag-kotoran-hewan-id","tag-kucing-id","tag-mitos-id","tag-purr-id"],"modified_by":"Philip F. E. Adipraja","_links":{"self":[{"href":"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/567","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=567"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/567\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6672,"href":"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/567\/revisions\/6672"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/6668"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=567"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=567"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/www.indowhiz.com\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=567"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}