Hamil dan Melahirkan di Luar Negeri Sambil Kuliah? Why Not!

Terakhir diperbarui pada

Bicara soal masa kehamilan, alhamdulillah saya diberikan kepercayaan hamil saat kuliah di luar negeri, tepatnya di Taiwan. Saat itu saya baru memasuki awal semester 2 kuliah S3 di National Central University. Memang hamil saat kuliah bukanlah cerita yang awam lagi. Sudah banyak orang yang survive dan berhasil menjalani masa kehamilan saat kuliah. Namun, tidak banyak yang hamil saat kuliah di luar negeri, tanpa keluarga besar, hanya ditemani suami. Pada artikel ini, saya punya sedikit kisah untuk dibagi mengenai masa kehamilan saya selama menjadi mahasiswa S3 di luar negeri.

Saya dan suami tidak langsung dikarunia anak setelah menikah. Anak kami lahir setelah menikah sekitar 2 tahun lebih. Diawal masa pernikahan kami cukup produktif meniti karir sebagai dosen. Selain sibuk mengajar, ada banyak penelitian dan pengabdian yang harus diselesaikan. Selain itu, di tahun pertama pernikahan, saya dan suami mendapatkan rezeki untuk melanjutkan kuliah S3 di luar negeri bersama. Kami pun tidak melewatkan kesempatan ini dan berangkat ke Taiwan untuk kuliah.

Baca Juga: Cara Mendapatkan Beasiswa di National Central University (NCU) Taiwan

Awal Kehamilan

Seperti yang saya sebutkan di atas, saya hamil saat awal semester 2 kuliah. Entah bagaimana saya harus bersyukur, karena saya rasa waktu inilah yang paling tepat untuk mempunyai anak. Saya pertama kali tau hamil saat janin sudah 4 minggu. Sama seperti gejala pada umumnya, saya telat menstruasi dan punya feeling untuk beli testpack. Ini testpack pertama yang saya beli di Taiwan dan iseng saya pakai untuk cek urine setelah saya telat menstruasi selama seminggu.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya saya melakukan testpack. Dulu setiap kali telat mens saya selalu testpack namun hasilnya masih negatif. Sehingga saya tidak terlalu berharap dan sudah strong jika hasilnya tetap negatif. Kaget pastinya saat tiba-tiba testpack yang saya pakai saat ini menunjukkan dua garis yang sangat jelas. Dan, drama menunjukkan testpack positif ke suami pun dimulai. Reaksi suami? Bersyukur pastinya, tapi tidak seheboh yang ada di sinetron, hehe.

tanda hamil (Positive Testpack)
Positive Testpack

Masa Mual Muntah Saat Hamil

Sama seperti kehamilan pada umumnya, saya juga mengalami mual muntah. Gejala ini mulai saya alami sejak minggu ke 8. Awalnya hanya mual saja tidak sampai muntah. Namun saat sudah menginjak minggu ke 9, gejalanya semakin parah hingga pernah satu hari saya muntah 10 kali lebih. Panik tentunya, karena dasarnya saya tidak suka dengan sakit yang punya gejala muntah. Percaya atau tidak, saya termasuk orang yang suka makan meskipun sakit, kecuali jika gelajanya muntah. Sehingga saat mual muntah di awal hamil selera makan saya langsung hilang.

Satu-satunya cara yang bisa saya lakukan adalah periksa ke dokter dan mengonsumsi obat anti mual dari rumah sakit (RS). Untuk mengurangi frekuensi mual dan muntah saya minum obat anti mual dari RS, terutama saat saya ada jadwal kuliah atau meeting. Masa mual muntah ini bertahan sampai akhir bulan ketiga kehamilan. Memasuki bulan keempat, saya sudah bisa merasakan lagi nikmatnya makan.

Hasil USG Saat Awal Kehamilan

Bagaimana Dengan Jadwal Kuliah dan Lab Meeting?

Inilah salah satu hal yang membuat saya bersyukur dengan waktu kehamilan yang tepat. Salah satu alasanny adalah karena project yang saya kerjakan selesai (terminated) berdekatan dengan waktu awal kehamilan. Sehingga, saya bisa bolos lab meeting mingguan selama masa mual muntah sekitar satu bulan. Karena belum mendapatkan project pengganti saya punya waktu free tanpa project sekitar satu bulan lebih. Saya pun izin ke Professor untuk tidak ikut meeting mingguan dan izin mengerjakan tugas secara remotely dari apartemen selama awal hamil.

Kegiatan saya dikampus hanya kuliah dua kali seminggu, selebihnya saya istirahat di apartemen. Saya tidak bisa membayangkan jika saya hamil saat berkerja menjadi dosen. Kemungkinan bisa saja izin saat badan drop, namun waktu izin tidak akan sebanyak saat saya hamil waktu kuliah. Itulah alasan mengapa saya bilang waktu ini sangat tepat untuk awal hamil.

Masa Mulai Ngidam Saat Hamil

Awalnya saya tidak begitu percaya dengan ngidam. Saya termasuk orang yang selalu ingin makan apapun termasuk makanan yang ‘nyeleneh’ meskipun tidak hamil. Namun, rasa ingin makan makanan tertentu saat hamil ternyata berbeda. Jika rasa ingin makan saat tidak hamil bisa ditunda atau ditolak, maka rasa ingin makan saat hamil atau ngidam tidak bisa ditolak. Saat ngidam, tekstur dan rasa makanan benar-benar terngiang-ngiang dan tidak akan hilang sebelum makanan yang diinginkan datang.

Yang menjadi masalah adalah saya sedang hamil di Taiwan, sedangkan makanan yang saya ngidam-kan adalah makanan Indonesia yang cukup langka. Misalnya rujak cingur, cenil, dan beberapa makanan tradisional yang susah dicari. Beruntung saya ada jadwal pulang ke Indonesia saat liburan semester, tepatnya saat kehamilan 6 bulanan. Jadi saya langsung mencatat makanan apa saja yang ingin saya beli dan makan di Indonesia.

Cerita Lucu Saat Ngidam

Ada satu insiden lucu dimana saya kelewatan untuk memakan satu makanan yang saya ngidam kan, yaitu cenil. Makanan ini adalah sejenis makanan tradisional yang teksturnya kenyal dibalut dengan gula merah dan kelapa muda. Sebenarnya saya sudah beli makanan ini. Namun karena begitu banyak makanan yang saya beli, saya jadi kekenyangan dan cenil yang saya beli lupa belum saya makan. Masalahnya waktu liburan saya sudah habis dan harus kembali ke Taiwan keesokan harinya.

Awalnya saya nggak masalah, namun saat sudah di Taiwan hal itu teringat kembali. Saya ingat kalau belum makan cenil yang saya beli dan rasa ngidam itu balik lagi, hehehe. Saya pun bilang ke suami kalau pengen makan cenil, tapi di Taiwan beli dimana? Akhirnya saya cari info dari teman-teman yang sudah lama di Taiwan dan mencoba mencari ke pasar tradisional. Hasilnya? Saya tidak menemukan penjual cenil.

Sebenernya itu hanyalah cenil, tapi karena ini ngidam saya sampai nangis karena nggak kesampaian untuk makan makanan itu. Bagi orang lain khususnya suami, agak lebai memang sampai menangisi makanan yang tidak bisa dimakan. Tapi memang beginilah bedanya ngidam saat hamil dan tidak. Yang sudah pernah ngidam pasti tau rasanya.

Namun kejadian ngidam ini akhirnya terobati. Ngidam cenil tergantikan dengan makanan khas Taiwan yang terksturnya mirip cenil yang kenyal yaitu kue mochi. Mochi khas Taiwan ini bisa menghilangkan rasa ngidam cenil sehingga saya langsung beli beberapa kotak dan saya habiskan sendiri, hehe.

Jika kalian penasaran merk kue mochi yang saya makan di Taiwan, nama kue mochinya adalah Sun Moon Lake Mochi. Ada banyak pilihan rasa, dan yang paling saya suka adalah rasa wijen. Mochi ini unik karena lapisan luarnya dilapisi wijen hitam dan putih. Selain enak, kue mochi brand ini sudah dilengkapi label halal.

Sun Moon Lake Sesame Mochi
Sun Moon Lake Sesame Mochi

Layanan Kesehatan Selama Hamil

Beruntung saat hamil saya sudah punya asuransi kesehatan. Kenapa asuransi kesehatan penting? Karena biaya rumah sakit di Taiwan terbilang cukup mahal. Hal ini berbanding lurus dengan standar pelayanan dan fasilitas kesehatan yang baik. Sehingga asuransi kesehatan menjadi hal wajib untuk semua orang yang tinggal di Taiwan.

Untuk periksa kehamilan, saya memilih rumah sakit khusus ibu dan anak yang lokasinya tidak jauh dari kampus NCU, yaitu Soong Junhong Maternity Hospital. Rumah sakit ini punya fasilitas yang cukup lengkap, kemungkinan setara dengan rumah sakit ibu dan anak yang ternama di Indonesia. Saya tidak bisa membandingkan kualitas RS ibu dan anak di Taiwan dan Indonesia secara langsung, karena ini pengalaman pertama hamil dan saya hanya punya pengalaman ke RS ibu dan anak di Taiwan.

Untuk perbandingan secara detail saya tidak bisa menjelaskan, namun secara garis besar pelayanan dan standart yang dilakukan di RS Taiwan sangat baik. Saya mendapatkan pelayanan yang maksimal mengingat saya adalah orang asing di Taiwan. Saya berkomunikasi dengan bahasa Inggris, hanya sedikit bahasa Mandarin yang saya kuasai. Meskipun demikian pihak RS tetap berusaha melayani dengan baik. Karena cerita mengenai pelayanan di RS cukup panjang, cerita ini akan saya tulis pada artikel lainnya ya.

Soong Junhong Maternity Hospital
Soong Junhong Maternity Hospital

Baca Juga: Mau Tau Bagaimana Detail Periksa Kehamilan di Luar Negeri? Ini Penjelasannya!

Proses Melahirkan

Melahirkan adalah proses yang paling dikhawatirkan namun paling ditunggu dalam proses kehamilan. Bagi sebagian orang termasuk saya, prosesi melahirkan cukup menakutkan. Saya termasuk ke dalam orang yang tidak suka pergi ke rumah sakit karena satu alasan klasik, yaitu takut dengan jarum suntik. Bagi orang-orang yang sama dengan saya, proses cek darah, imunisasi, infus, atau apapun yang berkaitan dengan jarum suntik pasti terasa menakutkan. Sebenarnya saya masih belum percaya jika saya yang takut jarum suntik ini bisa melewati proses kehamilan sampai melahirkan dengan sukses.

Kembali ke topik awal, proses melahirkan di Taiwan juga punya standar yang cukup baik. Dari segi persiapan pra kelahiran, proses kelahiran, sampai pasca kelahiran di susun sedemikian rupa sehingga sangat memudahkan pasien dalam menjalaninya. Karena ini pengalaman pertama melahirkan, jadi saya tidak bisa membandingkan bagaimana proses melahirkan di Indonesia dengan detail juga. Namun saya merasa puas dengan standar yang dipakai disini.

Akhirnya Baby Lahir Dengan Selamat di Taiwan

Memantapkan Niat Untuk Melahirkan Di Taiwan

Awalnya pasti saya merasa khawatir dan takut, bisakah saya melahirkan di luar negeri hanya dengan suami tanpa didampingi keluarga besar? Saya sampai mencari info tentang doula atau jasa pendamping persalinan. Namun biaya doula di Taiwan ternyata cukup mahal, membuat saya urung menggunakan jasa doula. Sebenarnya keluarga di Indonesia menyarankan untuk melahirkan di Indonesia saja.

Namun konsekuensinya adalah saya tidak ditemani suami, karena kami tidak berencana cuti kuliah. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya saya putuskan untuk melahirkan di Taiwan. Pertimbangan tersebut adalah ketidakinginan menunda masa studi dengan cuti kuliah serta berbekal pengalaman dari teman-teman yang sudah pernah melahirkan di Taiwan,

Ditambah semangat suami yang begitu menggebu-gebu. Saya tidak pernah menyangka, suami yang selama ini nggak pernah (jarang) mau masak, nggak pernah mau cuci piring, nyapu, dan bersih-bersih bisa berubah. Setelah saya hamil, bahkan dari minggu ke-6 hamil, tanpa disuruh sudah berinisiatif masak, cuci piring, nyapu, dll. Meskipun dia kadang bercanda, masak sana, cuci piring sana, atau nyapu sana. Tapi saya tahu itu hanya candaan agar dia tidak terlihat sebagai pahlawan, hehe. Dan pada akhirnya saya cukup lega dan tidak ada masalah berarti saat melahirkan di Taiwan, meskipun hanya ditemani suami. Cerita lebih lengkap mengenai proses melahirkan di Taiwan akan saya bahas lebih detail pada artikel lain.

Baca Juga: Pengalaman Melahirkan di Taiwan

Maternity Leave atau Cuti Melahirkan

Sesuai peraturan di Taiwan, waktu untuk maternity leave atau cuti melahirkan adalah 2 bulan. Hal ini juga berlaku untuk mahasiswa yang punya kewajiban nge-lab seperti saya. Namun untuk kasus saya, ada kemudahan dalam melakukan maternity leave. Saya hanya perlu izin cuti pada Professor dan tidak perlu melakukan izin cuti di departemen. Sehingga, kewajiban yang saya tinggalkan hanyalah pekerjaan di laboratorium dibawah pengawasan Professor. Sedangkan kewajiban lain seperti perkuliahan tetap bisa berjalan.

Proses Kuliah Selama Hamil dan Maternity Leave

Lalu bagaimana proses kuliahnya? Apakah tetap masuk kuliah selama cuti? Jawabannya adalah tidak. Perencanaan wajib dilakukan di awal semester agar proses perkuliahan tetap bisa berjalan meskipun saya cuti melahirkan. Caranya adalah dengan memperkirakan waktu melahirkan dan melakukan izin dengan Professor yang mengampu mata kuliah di awal perkuliahan. Saya sudah tau jika jadwal melahirkan saya sekitar awal bulan Desember 2019. Oleh karena itu saya meminta izin kepada Professor untuk cuti di awal Desember dan tidak ikut perkuliahan sampai UAS.

Apakah semudah itu meminta izin dalam waktu lama? Jawabannya adalah iya. Inilah hal lain yang membuat saya bersyukur dengan hamil di waktu yang tepat. Waktu itu saya memutuskan mengambil mata kuliah Natural Processing Language yang notabene banyak tugas dalam mata kuliah ini. Namun, saya bertekad mengambil kuliah ini semasa hamil. Saya mengambil keputusan tersebut karena dari awal Professor yang mengampu mata kuliah ini sudah memberikan saya izin untuk cuti melahirkan. Selain itu, saya juga tidak diperkenankan datang di hari UAS. Beliau menganggap melahirkan adalah proses yang berat, jadi tidak masuk sampai UAS tidak masalah. Senang bukan mendapatkan Professor yang punya toleransi tinggi.

Akhirnya saya dan suami ikut kuliah di mata kuliah ini dan saya melakukan kuliah sampai pertemuan ke 12. Di pertemuan 13 sampai 16 saya cuti dan waktu UAS saya tidak perlu datang. Beruntung UAS dikerjakan dalam bentuk final project secara kelompok dan hanya butuh presentasi poster. Beruntungnya lagi adalah teman satu kelompok saya adalah suami saya sendiri, hehe. Untuk pengerjaan tugas saya juga diberikan keleluasaan untuk mengerjakan sampai akhir semester 3. Sehingga saya bisa fokus merawat bayi setelah melahirkan. Saya benar-benar mengacungi jempol untuk warga Taiwan atas toleransi mereka menyikapi masalah wanita hamil dan proses cuti melahirkan.

Proses Parenting

Proses parenting adalah tahapan baru setelah proses hamil dan melahirkan terlampaui. Saat saya menulis artikel ini, saya baru melakukan proses parenting selama satu bulan. Siapa sangka ternyata hamil adalah proses paling mudah dalam proses memiliki anak. Disusul dengan melahirkan dan yang paling sulit adalah proses parenting. Dimana kita akan berperan sebagai orang tua yang harus merawat, membesarkan, dan mendidik anak.

Saya yang selama ini sama sekali tidak pernah belajar parenting cukup kaget jika ternyata mengurus anak adalah hal yang tidak mudah. Awalnya saya berekspektasi cukup tinggi, namun kembali lagi, kadang ekspektasi tidak selalu sesuai dengan realita. Kehidupan setelah punya anak berubah sangat drastis. Jika awalnya saya adalah manusia dengan kehidupan yang teratur bangun dipagi hari, lalu mandi, sarapan, setelah itu ke kampus dan kuliah di siang hari, pulang kampus di sore hari. Tidur cukup antara 6-8 jam di malam hari, setelah punya anak jadwal itu jadi berantakan.

Saya baru saja mengetahui jika bayi punya pola hidup berbeda diawal kehidupannya. Dia bisa tidur 18-20 jam sehari namun pola tidurnya tidak menentu. Bayi tidur selama 2 jam lalu bangun untuk menyusu selama 40 menit hingga 1 jam. Dan hal tersebut berulang tidak peduli siang atau malam. Kelihatannya sederhana, tapi ternyata sulit dilalui. Pola tidur kita menjadi berantakan karena mau tidak mau harus menyesuaikan dengan pola hidup bayi di awal kehidupannya. Proses parenting yang akan saya lakukan masih sangat panjang, jika ada waktu dan kesempatan akan saya tulis di artikel lain.

Pesan: Masa kehamilan memang paling ditunggu dan menjadi saat paling menyenangkan bagi pasangan terutama istri. Namun, perlu kalian ketahui perjuangan wanita saat hamil tidaklah mudah. Makanya wanita butuh suami saat hamil. Kelak, carilah suami yang tidak hanya mapan secara materi atau hanya ganteng. Tetapi juga harus yang ‘super baik’, yang bisa menemani mu dalam melewati every single day masa-masa terberat saat hamil.

Written by Ida Wahyuni

Mahasiswa Ph.D. di Fakultas Computer Science and Information Engineering di National Central University

This article has 4 comments

  1. gravatar
    Tri Esti Yustini Reply

    Assalamualaikum, saya mahasiswa Taiwan juga dan sedang mengalami kehamilan. Bolehkah saya sharing lebih lanjut ke anda? Karena posisi saya sekarang membingungkan bagi saya.

  2. gravatar
    Kaca mata Bela Reply

    Mohon maaf apakah mba kuliah dengan beasiswa? Jika dg beasiswa bagaimana menjalani proses melahirkan disana dilihat dari sisi budgeting?

    • gravatar
      Ida Wahyuni

      Halo kak. Iya benar, saya kuliah dengan beasiswa. Beasiswa yang saya peroleh lengkap dengan biaya hidup. Memang fasilitas kesehatan disini cukup mahal, namun saya sudah memiliki asuransi kesehatan, jadi biaya periksa kehamilan sampai biaya melahirkan di cover asuransi. Saya hanya cukup membayar biaya yang tidak ditanggung asuransi, misalnya pemeriksaan down simdrom, induksi, dan pemeriksaan pada bayi pasca melahirkan. Dan biaya tersebut masih ter-cover dengan biaya hidup dari beasiswa.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.